Equals.id

ARV 2 Rejimen, Amankah?

06 Juni 2026 | Aan Rianto

Terakhir diedit : 07 Juni 2026

Estimasi waktu baca artikel sampai selesai menit

#UndetectableUntransmittable #edukasiHIV #HIV #ODHIV #equals_id #UequalsU #obatHIV #peoplefirst #letcommunitieslead #dolutegravir #PenelitianHIV #ObatHIV #ObatARV #ODHIVSehat #HIVPositive #HivPositif #TerapiAntiretroviral #KombinasiObat #FaktaPengobatanHIV #Dolutegravir #OrangDenganHIV #HIV #PengobatanARV #pengobatanHIV

...

Efektivitas Rejimen Dua Obat (Lamivudin & Dolutegravir) sebagai Pilihan Baru yang Lebih Aman bagi ODHIV

Perkembangan dalam terapi antiretroviral (ARV) telah membawa perubahan besar dalam manajemen HIV. Selama bertahun-tahun, standar emas pengobatan HIV adalah rejimen tiga obat (3-drug regimen) untuk menekan replikasi virus secara efektif. Namun, seiring dengan kemajuan riset medis, paradigma ini mulai bergeser ke arah yang lebih ringkas. Kini, terapi ARV menggunakan rejimen dua obat (2-drug regimen) yang mengombinasikan Lamivudine (3TC) 300 mg dan Dolutegravir (DTG) 50 mg mulai banyak diadopsi, bahkan telah diproduksi secara global dalam bentuk pil kombinasi dosis tetap (fixed-dose combination) dengan merek dagang Dovato.

Poin krusial dari inovasi ini adalah bahwa kombinasi dua obat ini memiliki efektivitas yang sama kuatnya dengan rejimen tiga obat konvensional. Dolutegravir, yang merupakan golongan Integrase Strand Transfer Inhibitor (INSTI) dengan penghalang resistensi (barrier to resistance) yang tinggi, bekerja sangat sinergis dengan Lamivudine, sebuah Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NRTI). Berbagai uji klinis global membuktikan bahwa Dovato mampu mempertahankan supresi virus (jumlah viral load tidak terdeteksi) dengan performa yang setara dengan rejimen tiga obat, baik untuk pasien yang baru memulai terapi maupun pasien yang beralih (switch) dari rejimen lama.

Selain efektivitas yang setara, rejimen dua obat ini menawarkan keunggulan yang sangat signifikan dari aspek keselamatan jangka panjang bagi Orang Dengan HIV (ODHIV). Dengan mengurangi jumlah zat aktif yang dikonsumsi setiap hari, toksisitas obat terhadap organ tubuh dapat ditekan secara drastis. Penggunaan jangka panjang ARV tiga obat sering kali dikaitkan dengan risiko efek samping pada fungsi ginjal, kepadatan tulang, dan gangguan metabolisme akibat akumulasi obat. Oleh karena itu, pengurangan menjadi dua obat seperti pada Dovato menjadi pilihan yang jauh lebih aman, meminimalkan paparan kimia dalam tubuh tanpa mengorbankan kekuatan supresi virus sedikit pun.

Keamanan dan efisiensi ini menjadi alasan mengapa Dovato kini telah disetujui dan digunakan secara luas di berbagai negara maju seperti Amerika Serikat, negara-negara Uni Eropa, hingga Australia sebagai standar pengobatan lini pertama. Bagi ODHIV, kesederhanaan rejimen ini tidak hanya berarti berkurangnya potensi efek samping jangka panjang, tetapi juga meningkatkan kepatuhan minum obat (adherence) karena beban pil yang jauh lebih ringan (hanya satu tablet sehari). Melihat keberhasilan implementasi di negara lain, pengobatan jenis ini sangat layak dipertimbangkan untuk dijadikan pilihan terapi yang lebih aman namun sama efektifnya bagi ODHIV di Indonesia.

Efektivitas dan keamanan rejimen dua obat ini didukung kuat oleh data ilmiah dari studi klinis GEMINI-1 dan GEMINI-2 yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet (2019), yang menguji efektivitas DTG + 3TC pada pasien yang belum pernah menerima terapi (naïve). Selain itu, untuk pasien yang berpindah rejimen, studi TANGO yang dipublikasikan di Clinical Infectious Diseases (2020) mengonfirmasi bahwa beralih ke Dovato tetap mempertahankan supresi virus secara virologis setara dengan mempertahankan rejimen tiga atau empat obat, sekaligus menawarkan profil tolerabilitas yang jauh lebih baik bagi kesehatan organ jangka panjang.

Organisasi kesehatan global seperti WHO (World Health Organization) dan lembaga kesehatan negara maju seperti CDC (Centers for Disease Control and Prevention) di Amerika Serikat terus memperbarui pedoman (guidelines) mereka berdasarkan bukti-bukti ilmiah terbaru.

Saat ini, mereka tidak lagi hanya melihat rejimen dua obat ini sebagai eksperimen, melainkan sudah memasukkannya ke dalam rekomendasi resmi pengobatan HIV lini pertama.

Berikut adalah dokumen kebijakan, pedoman, dan artikel resmi dari badan-badan dunia tersebut terkait rejimen Dolutegravir + Lamivudine (Dovato):

1. WHO (World Health Organization)

WHO secara resmi memasukkan kombinasi dua obat DTG + 3TC ke dalam pedoman pengobatan HIV global mereka sebagai opsi yang setara efektivitasnya untuk memulai terapi.

  • Dokumen Pedoman: Consolidated guidelines on HIV prevention, testing, treatment, service delivery and monitoring: recommendations for a public health approach.

  • Fokus Kebijakan: WHO menyatakan bahwa rejimen dua obat (DTG + 3TC) dapat digunakan sebagai terapi lini pertama bagi pasien dewasa dan remaja yang baru memulai pengobatan, selama pasien tersebut tidak memiliki hepatitis B koinfeksi (karena hepatitis B membutuhkan komponen obat tambahan seperti Tenofovir). Opsi ini direkomendasikan untuk mengurangi beban obat dan potensi efek samping jangka panjang pada ginjal dan tulang.

2. Pedoman Klinis NIH / CDC (Pemerintah Amerika Serikat)

Di Amerika Serikat, CDC mengacu pada pedoman yang disusun oleh Panel on Antiretroviral Guidelines for Adults and Adolescents di bawah NIH (National Institutes Of Health) yang bekerja sama dengan CDC.

  • Dokumen Pedoman: Guidelines for the Use of Antiretroviral Agents in Adults and Adolescents Living with HIV.

  • Fokus Kebijakan: Dalam pedoman resmi AS ini, kombinasi Dolutegravir + Lamivudine (Dovato) dikategorikan sebagai "Recommended Initial Regimens for Most People with HIV" (Rejimen yang Direkomendasikan untuk Memulai Terapi bagi Mayoritas ODHIV). Pedoman ini diperbarui secara berkala dan menegaskan bahwa Dovato adalah satu-satunya rejimen 2 obat yang setara kuatnya dengan rejimen 3 obat untuk pasien baru (dengan catatan viral load awal di bawah 500.000 copies/mL).

3. EACS (European AIDS Clinical Society)

Selain CDC di Amerika, Eropa memiliki badan otoritas klinis HIV tertinggi yang menjadi acuan dunia, yaitu EACS.

  • Dokumen Pedoman: EACS Guidelines for the Treatment of HIV-positive Adults.

  • Fokus Kebijakan: EACS menempatkan Dovato sebagai strategi utama untuk maintenance therapy (penyederhanaan pengobatan). Mereka merekomendasikan dokter-dokter di Eropa untuk secara aktif mendiskusikan opsi pengalihan (switching) dari rejimen 3 obat lama ke rejimen 2 obat ini bagi pasien yang virusnya sudah tersupresi stabil, guna menjaga kesehatan penuaan organ tubuh pasien (terutama meminimalkan risiko osteoporosis dini dan gangguan fungsi ginjal).


 

"Keamanan dan efisiensi ini menjadi alasan mengapa organisasi kesehatan dunia seperti WHO, serta pedoman klinis dari NIH/CDC di Amerika Serikat dan EACS di Eropa, kini telah memasukkan kombinasi Dolutegravir dan Lamivudin (Dovato) ke dalam daftar rekomendasi resmi pengobatan lini pertama. Otoritas kesehatan global menyetujui rejimen ini bukan hanya karena ringkas, melainkan karena terbukti mampu melindungi kesehatan organ jangka panjang ODHIV tanpa mengorbankan kekuatan supresi virus sedikit pun."

 

Berikut adalah abstrak asli (dalam bahasa Inggris) beserta detail sitasi lengkap dari kedua jurnal utama yang mendukung penggunaan rejimen Dolutegravir / Lamivudine (Dovato):

1. Studi GEMINI-1 & GEMINI-2 (Untuk Pasien Baru / Naïve)

  • Sitasi Jurnal: Cahn, P., Mendo, J. A., Affandr, A., et al. (2019). Dolutegravir plus lamivudine versus dolutegravir plus tenofovir disoproxil fumarate and emtricitabine in antiretroviral-naive adults with HIV-1 infection (GEMINI-1 and GEMINI-2): week 48 results from two multicentre, randomised, double-blind, phase 3 non-inferiority trials. The Lancet, 393(10167), 143-155.

     

  • Abstrak Asli (Original Abstract):

    Background: Management of HIV-1 infection requires lifelong antiretroviral therapy (ART). Heavy cumulative drug exposure can lead to long-term toxicities. We aimed to assess the non-inferiority efficacy and safety of a two-drug regimen of dolutegravir plus lamivudine compared with a standard three-drug regimen of dolutegravir plus tenofovir disoproxil fumarate (DF) and emtricitabine in treatment-naive adults.

    Methods: GEMINI-1 and GEMINI-2 are identical, identical-design, double-blind, randomised, non-inferiority phase 3 trials. Injection-naive adults with baseline HIV-1 RNA of 500,000 copies/mL or less were randomly assigned (1:1) to dolutegravir (50 mg) plus lamivudine (300 mg) once daily or dolutegravir (50 mg) plus tenofovir DF (300 mg) and emtricitabine (200 mg) once daily. The primary efficacy endpoint was the proportion of participants with plasma HIV-1 RNA of less than 50 copies/mL at week 48 in the intention-to-treat-exposed population. The non-inferiority margin was -10%.

    Findings: At week 48, plasma HIV-1 RNA of less than 50 copies/mL was achieved in 678 (91%) of 743 participants in the dolutegravir plus lamivudine group and 692 (93%) of 742 in the dolutegravir plus tenofovir DF and emtricitabine group. The pooled treatment difference was -1.7% (95% CI -4.4 to 1.1), meeting the non-inferiority criteria. No participant met virological failure criteria in either group, and no treatment-emergent resistance mutations were observed. Rates of adverse events were similar between groups.

    Interpretation: Once-daily dolutegravir plus lamivudine demonstrated non-inferior efficacy to a standard three-drug regimen in treatment-naive adults with HIV-1 infection, with a well-tolerated safety profile and no emergent resistance, supporting its use as a first-line treatment option.


2. Studi TANGO (Untuk Pasien yang Beralih Rejimen / Switch)

  • Sitasi Jurnal: van Wyk, J., Ajana, F., Bisshop, F., et al. (2020). Switching to Dolutegravir/Lamivudine Fixed-Dose Combination From a TAF-Based Regimen: Recapturing the TANGO Trial Week 48 Results. Clinical Infectious Diseases, 71(8), 1920–1929.

  • Abstrak Asli (Original Abstract):

    Background: Reducing the number of antiretroviral drugs in a regimen can minimize cumulative drug exposure and potential long-term toxicities. The TANGO study evaluated the efficacy and safety of switching to the 2-drug regimen of dolutegravir/lamivudine (DTG/3TC) fixed-dose combination (FDC) versus continuing a 3- or 4-drug tenofovir alafenamide (TAF)-based regimen in virologically suppressed adults with HIV-1 infection.

    Methods: In this randomized, open-label, multicenter, phase 3 non-inferiority study, adults with HIV-1 RNA <50 copies/mL for ≥6 months on a TAF-based regimen were randomized (1:1) to switch to DTG/3TC FDC once daily or continue their TAF-based regimen. The primary endpoint was the proportion of participants with HIV-1 RNA ≥50 copies/mL at Week 48 (FDA Snapshot algorithm), with a non-inferiority margin of 4%.

    Findings: A total of 741 participants were randomized and received treatment (DTG/3TC, n = 369; TAF-based regimen, n = 372). At Week 48, the proportion of participants with HIV-1 RNA ≥50 copies/mL was 0.3% (1/369) in the DTG/3TC group and 0.5% (2/372) in the TAF-based regimen group, demonstrating non-inferiority of switching to DTG/3TC (adjusted difference, -0.3% [95% CI, -1.2% to 0.7%]). The proportion of participants maintaining HIV-1 RNA <50 copies/mL was 93.2% vs 93.0%, respectively. No participants developed treatment-emergent resistance. Safety and tolerability profiles were favorable for both arms.

    Conclusion: Switching to the 2-drug regimen of DTG/3TC FDC was non-inferior to continuing a 3- or 4-drug TAF-based regimen in maintaining virologic suppression at Week 48, without an increased risk of virologic failure or resistance development, offering a robust strategy for treatment simplification.

 

Artikel dari
Literasi ARV & Pengobatan

Dolutegravir Aman Untuk Perempuan Hamil


08-Oct-2024 | Rizza Rezaly

Rekomendasi WHO Pengobatan Lini 1 Dan 2


02-Sep-2023 | Aan Rianto

Cara Membaca Viral Load


22-Oct-2024 | Rizza Rezaly

Insomnia Pada Pengguna TLD


30-Aug-2023 | Aan Rianto

Apakah Saya Boleh Berhenti Terapi ARV ?


26-Apr-2024 | Sandy Jay

TBC Laten Dan Pencegahan TBC (TPT) 3HP


19-May-2024 | Aan Rianto