Sama-Sama Positif HIV, Dapatkah Melakukan Seks Tanpa Kondom?
Terakhir dibaca 04-Apr-2025
Terakhir diedit 29-Dec-2024
Estimasi waktu baca artikel sampai selesai menit
Telah di baca 674 kali
#faith2endaids
Keputusan melakukan suatu hubungan seks tanpa kondom adalah suatu hal yang selalu perlu dipertimbangkan risikonya terutama apabila menyangkut kesehatan seksual. Selain HIV, IMS (infeksi menular seksual) lain juga perlu menjadi pertimbangan saat memutuskan untuk melakukan seks tanpa kondom.
Beberapa orang yang hidup dengan HIV memutuskan untuk memilih pasangan yang juga sama-sama berstatus HIV postif (serokonkordan) karena berpikir akan lebih mudah dalam menjalani hubungan. Walaupun sebenarnya tidak perlu ada alasan menjadikan status HIV sebagai suatu syarat hubungan atau relasi.
Orang dengan HIV yang melakukan pengobatan ARV dan menjaga viral loadnya tersupresi sudah tidak lagi dapat menularkan HIV kepasangannya secara seksual. Tetepi kemudian kita mendengar adanya reinfeksi atau superinfection, dimana pasangan positif terifeksi ulang dengan varian HIV yang berbeda.
Sekalipun hal ini bukan hal yang mustahil tetapi risiko kejadiannya juga tidak terlalu banyak. Dengan terapi pengobatan ARV kasus reinfeksi ini dapat dicegah terjadinya.
Pada umumnya superinfeksi ini dapat terjadi saat orang yang terinfeksi HIV melakukan aktifitas seks tanpa kondom dengan orang lain yang hidup dengan HIV tetapi masih memiliki viral load belum tersupresi. Baik karena belum menjalani terapi pengobatan ARV, ataupun menjalani terapi pengobatan ARV tetapi masih memiliki viral load yang belum tersupresi (bisa juga karena pengobatan yang dilakukan sudah resisten).
Seperti kita ketahui orang dengan HIV yang menjaga viral loadnya tersupresi tidak lagi dapat menularkan HIV secara seksual, sehingga kasus reinfeksi ini juga lebih tidak mudah terjadi.
Fungsi pengobatan ARV selain mengurangi jumlah virus yang ada dialiran darah juga, mencegah HIV menginfeksi sel CD4 yang tidak terinfeksi, sehingga HIV gagal bereplikasi lebih banyak. Manfaat ini seperti halnya orang yang negatif HIV menggunakan obat ARV sebagai profilaksis (PrEP atau PEP).
Disisi lain pengobatan ARV sebagai pencegahan penularan HIV juga berarti bahwa orang yang positif HIV dan menjalani terapi pengobatan ARV yang efektif memiliki perlindungan cukup tinggi dari risiko terjadinya superinfeksi ini.